"Paling tidak dari pemerintah kan bisa membantu likuiditas perusahaan (BUMN). Bu Menteri (Menteri BUMN Rini Soemarno) kan selalu bilang untuk leverage, dia (perusahaan BUMN) dapat PMN kan leveragenya naik juga," jelas Dwijanti di sela rapat dengan Komisi VI DPR, Jumat malam (30/1).
Hal senada juga diungkapkan oleh Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry, Danang S. Baskoro. Dia berpendapat kebijakan pemerintah untuk menambah penyertaan modal lebih baik dari pada sekedar belanja modal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, pemerintah harus masuk dan bantu membiayai investasi infrastruktur agar secara keuangan memungkinkan bagi perusahaan. Pembangunan infrastruktur bagi perusahaan dianggap kurang menguntungkan karena imbal hasilnya rendah, sedangkan investasi yang dibutuhkan nilainya besar.
Penyataan keduanya merupakan respon atas kritik dari berbagai pihak yang menganggap kebijakan PMN kali ini tidak jelas sasaran dan sekma pengelolaannya.
Sebelumnya, Dwijanti mengakui bahwa kementeriannya merancang kebijakan PMN dalam waktu yang singkat. Usulan kebijakan tersebut dikebut karena mempertimbangkan waktu pembahasan revisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2015 yang relatif singkat dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
"Namanya juga RAPBN-P. (Pembahasan) RAPBN-P kan waktunya terbatas, tapi kami menyempurnakan kok," ujarnya.
Awalnya, pemerintah berencana menyuntik modal Rp 72,97 triliun kepada 40 perusahaan pelat merah, yang kemudian usulannya dipangkas menjadi Rp 48 triliun untuk 35 BUMN. ASDP mendapat jatah alokasi PMN sebesar Rp 1 triliun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBNP) 2015, yang tengah dibahas bersama DPR. (ags/ags)