Pelaksana tugas (Plt) Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM I Gusti Nyoman Wiratmadja menjelaskan, dua opsi tersebut merupakan hasil hitungan kajian yang disampaikan Direktorat Jenderal Migas untuk diputuskan para menteri terkait.
“Hasil kajian sudah diserahkan ke Menteri ESDM untuk selanjutnya dibahas pada level yang lebih tinggi. Dua opsinya antara menaikkan harga elpiji Rp 1.000 per kg atau menambah subsidi Rp 2 triliun yang diambil dari pengalihan subsidi BBM dan listrik,” ujar Wiratmadja dikutip dari situs resmi Kementerian ESDM, Senin (2/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya Vice President LPG dan Gas Product Pertamina Gigih Wahyu Hari Irianto meminta pemerintah segera menyesuaikan formulasi keuntungan baru bagi perseroan yang menjalankan tugas mendistribusikan elpiji ukurang tabung 3 kg. Pasalnya, formula penentuan margin distribusi yang dijalankan Pertamina sudah dipakai sejak 2009.
Sebar 1,2 Juta Paket Perdana
Program penghematan subsidi melalui konversi bahan bakar minyak (BBM) ke gas merupakan salah satu dasar pemikiran diluncurkannya produk elpiji 3 kg oleh pemerintah sejak 2007 lalu. Tahun ini, pemerintah rencananya akan membagikan 1,2 juta paket perdana elpiji 3 kg ke wilayah Sumatera Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tengah.
Jumlah tabung yang dibagikan tersebut diambil dari pesanan 2 juta tabung elpiji melon yang diminta Menteri ESDM Sudirman Said untuk dikerjakan PT Pindad (Persero).
“Kita sudah bikin action plan untuk kegiatannya supaya akhir tahun bisa selesai,” tegas Wiratmadja. (gen)