"Bisnis otomotif Indonesia itu semakin tertekan dengan kehadiran mobil murah. Lihat, produsen (Jepang) mana yang tidak memproduksi LCGC (Low Cost Green Car)," ujar Darmaningtyas kepada CNN Indonesia di Jakarta, Sabtu (7/2).
Seperti diketahui dalam lawatannya ke Malaysia Jumat kemarin (6/2), Presiden Jokowi dikabarkan menyaksikan penandatangan nota kesepaham atau memorandum of understanding (MoU) antara perusahaan otomotif asal Malaysia yakni Proton Holdings Berhad dengan perusahaan otomotif domestik yakni PT Adiperkasa Citra Lestari. Disinyalir, penandatanganan kerjasama ini terkait rencana pemerintah yang akan kembali menggalakan program mobil nasional pasca mati surinya mobnas bermerek Timor dan Bimantara Cakra yang diproduksi di era 1995-an.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Konsumen mobil itu sama halnya seperti konsumen rokok. Mereka akan setia dengan produk yang sudah lama dikonsumsi atau pakai pastinya. Kecuali produk (mobil) baru tadi menawarkan kualitas dan harga yang lebih baik," ujarnya.
Untuk itu, Darmaningtyas mengatakan sudah seharusnya pemerintah harus lebih cermat memilih investor yang akan menggarap proyek mobnas ini. "Memang akan lebih efisien jika program mobnas diadakan lagi dengan menggadeng produsen yang sudah berpengalaman ketimbang melanjutkan mobil dalam negeri yang kemarin di ujicobakan. Tapi pemerintah harus cermat melihat investor yang masuk, karena sudah hal yang lumrah bisnis semacam ini lebih dikarenakan kepentingan politik dan penguasa," katanya.
"Tapi disini bukan salah atau benar. Tapi business as ussual, dimana penguasa akan kerjasama dengan pengusaha yang memiliki kesamaan visi," ungkapnya.
Masih berdasarkan Paultan, studi kelayakan akan program mobnas sendiri akan segera dilakukan, termasuk aspek teknis dan komersial. Studi itu juga melihat bagaimana potensi pengembangan dan pembuatan mobil nasional di Indonesia. Proton dan PT Adiperkasa Citra Lestari juga merencanakan lokalisasi, pembelian, teknik pembuatan, desain kegiatan, layanan logistik, studi pasar, dan proses relevan lainnnya di Indonesia. (dim/sip)