"Efeknya (penurunan tingkat bunga FLPP) terhadap MBR kecil kalau targetnya untuk mengurangi backlog," ujar Ketua LPP3I Zulfi Syarif Koto kepada CNNIndonesia, Minggu (8/2).
Mantan Deputi Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) Bidang Perumahan Formal ini mengungkapkan dampak penurunan suku bunga FLPP akan lebih banyak dinikmati oleh MBR yang bekerja di sektor formal yang masuk dalam kategori bankable. Padahal, persentase MBR formal hanya 30 persen dari total MBR, 70 persen sisanya merupakan MBR yang bekerja di sektor non formal yang sulit menjangkau akses kredit perbankan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, sisi permintaan masih kurang diperhatikan. Dalam hal ini, kian tergerusnya daya beli MBR akibat makin tingginya harga tanah dan bangunan.
"Pendekatan (pemerintah) baru supply padahal perumahan rakyat ini kan tidak hanya supply, demand juga juga perlu diperhatikan. Bagaimana kita menaikkan daya cicil atau daya beli MBR non formal tadi," tambahnya..
Sebagai informasi, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) backlog perumahan Indonesia di 2010 mencapai 13,6 juta unit, sedangkan pada tahun ini LPP3I memperkirakan mencapai lebih dari 15 juta unit. (ags/ags)