"Masih diskusi internal, antara dua atau empat unit. Kapasitasnya antara 170 ribu sampai 180 ribu metrik ton per kapal," ujar Vice President LNG Pertamina Didik Sasongko di Jakarta, Selasa (10/2).
Berdasarkan neraca kebutuhan gas yang dirilis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pada 2025 mendatang Indonesia mengalami defisit gas mencapai 4 miliar kaki kubik per hari (BCFD) atau setara dengan 32 juta ton per annum (MTPA).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Didik mengatakan Pertamina berharap pengadaan dua sampai empat kapal ini bisa menjadi langkah awal manajemen untuk menjadikan Pertamina sebagai agregator gas di Indonesia. "Tapi ini rahasia dapur Pertamina. Saya tidak bisa jelaskan lebih lanjut," katanya.
"Kami ingin tingkatkan porsi gas untuk dalam negeri karena sekarang rata-rata alokasi gas 60 persen diekspor sementara 40 persen lainnya untuk dalam negeri," tuturnya.
Selain itu, pemerintah juga akan mendorong Pertamina Persero untuk memperbanyak pengadaan fasilitas penyimpanan dan pengolahan gas bumi seperti Floating Storage Regasification Unit (FSRU). "Saat ini kita sedang dorong pertamina untuk bangun FSRU besar di Bojonegara, Banten dan hub besar di Makassar. Jadi kalau ada ekses, gas tanpa pembeli itu bisa masuk dan terserap kesana," tutur Wiratmadja. (gen)