“Tahun ini kami optimistis produksinya meningkat 20 persen, dari 500 ribu ton menjadi 600 ribu ton mengikuti kenaikan permintaan yang rata-rata 20 persen per tahun,” jelas Ketua Umum AIKI Pieter Jasman kepada CNN Indonesia, Sabtu (14/2).
Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, lanjut Pieter, pada 2014 Indonesia masih harus mengimpor 10 ribu ton biji kakao dari Afrika dan 100 ribu ton bubuk kakao dari Malaysia dan Singapura. Impor komoditas tersebut dilakukan untuk campuran produksi industri cokelat nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati demikian, Pieter mengungkapkan Indonesia merupakan pemasok kakao terbesar nomor tiga di dunia. selaku produsen kakao, Indonesia cukup diuntungkan dengan kenaikan harga kakao yang menyesuaikan dengan tingginya permintaan global.
Subsidi Rp 1,1 Triliun
Pemerintah, kata Pieter, telah mendapat restu dari DPR untuk mengalokasikan anggaran sebesar Rp 1,1 triliun khusus untuk membantu petani kakao di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2015. Namun, Piter tidak menjelaskan skema distribusi dana bantuan atau subsidi tersebut.
“Itu dilakukan untuk memenuhi demand yang sangat tinggi di Indonesia, Tiongkok, dan India. Pemerintah menargetkan pada 2020 Indonesia jadi pemasok nomor satu dunia,” kata Pieter.
(ags/ags)