"Pemerintah ingin meyakini semua pihak termasuk LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) agar proyek smelter Papua berjalan. Jadi kami harus tahu itu siapa perusahaan Tiongkok yang mau bangun smelter," ujar Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, R. Sukhyar di Jakarta, Senin (16/2).
Seusai melakukan pemantauan langsung di area pertambangan PT Freeport Indonesia, Sabtu (14/2) kemarin, pemerintah menegaskan bahwa perusahaan pertambangan asal Amerika Serikat tersebut batal membangun smelter di Papua karena faktor keekonomian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Klaimnya mereka juga akan membangun pembangkit sebesar 60 MW (megawatt) yang gasnya diambil dari Bintuni. Sementara sisanya dari PLTA," tuturnya.
Selain smelter, lanjut Sukhyar, Pemda Papua juga berkomitmen membangun kawasan industri di dekat area pabrik pengolahan. Untuk merealisasikan rencana itu, pemda akan menggandeng sejumlah investor untuk menutupi pembiayaan proyek.
"Nantinya di dekat sana juga akan dibangun pabrik semen. Sementara proyek PLTA berkapasitas 600 MW juga akan dibangun," pungkasnya. (ags/gen)