Optimisme bisnis Indonesia tercatat sebesar 68 persen pada periode Januari-Maret 2015, meningkat dibandingkan dengan nilai kuartal IV 2014 yang hanya 14 persen. Namun, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu 78 persen.
“Lonjakan optimisme yang terjadi ini memberikan sinyal yang prospektif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun mendatang,” jelas Johanna Gani, Managing Partner di Grant Thornton Indonesia, dalam risetnya, Senin (13/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Johanna Gani, mayoritas pebisnis yang disurvei optimistis akan mampu mencapai target penjualan dan profit yang diharapkan. Ekspektasi atas pencapaian profit untuk 12 bulan mendatang meningkat hingga 50 persen, setelah pada periode sebelumnya hanya sebesar 20 persen.
Prediksi tersebut, kata Gani, selaras dengan perkiraan Bank Indonesia yang meyakini bahwa perekonomian akan mulai membaik pada kuartal pertama 2015.
“Di masa seperti ini, peningkatan anggaran investasi pemasaran merupakan ide yang bagus untuk dipertimbangkan. Pengembangan atau peluncuran produk dan layanan baru, dikombinasikan dengan pengembangan akses kepada sumber baru untuk pendanaan bisnis, merupakan inisiatif yang sangat mungkin diaplikasikan untuk bisa mencapai pertumbuhan bisnis yang berkesinambungan di tahun 2015,” ujarnya menyarankan.
Pendapat sebaliknya pernah diutarakan oleh Tony Prasetiantono, Ekonom senior yang juga Komisaris Independen Bank Permata. Menurutnya, terjerembabnya rupiah ke level terendah sejak krisis 1998 merupakan cermin dari kepercayaan investor yang semakin luntur terhadap Pemerintahan Joko Widodo.
"Tidak fair kalau hanya menyebut faktor eksternal, ada juga masalah internal. Bank Indonesia bilang fundamental ekonomi kita baik, tapi ada faktor confidence Jokowi yang turun. Ada pelemahan trust terhadap pemerintahan Jokowi, sehingga ujung-ujungnya investor pilih pegang dolar," jelas Tony Prasetiantono, Ekonom yang juga Komisaris Independen Bank Permata di Senayan, Sabtu (28/3).
(Baca juga: Popularitas Jokowi Anjlok, Rupiah Turut Jeblok)
Tony menilai Jokowi mengalami kemunduran karakter belakangan ini dibandingkan dengan masa-masa menjelang dan awal kepemimpinannya sebagai presiden. Ketidaktegasan dan keragu-raguannya dalam menuntaskan sejumlah kisruh politik dan hukum memicu kekecewaan masyarakat yang mayoritas mendukungnya. Tak ayal, kejadian tersebut turut mempengaruhi kondisi ekonomi dalam negeri. (ags)