Berdasarkan keterangan resmi, per 31 Desember 2014, Elnusa masih mempertahankan pertumbuhan pendapatan usaha sebesar 2,7 persen atau menjadi Rp 4,2 triliun. Laba bersih per saham pun otomatis meningkat dari sebelumnya Rp 32,8 menjadi Rp 56,5.
Sri Purwanto, Head of Corporate Communications Elnusa, menjelaskan pendapatan usaha tersebut terutama ditopang oleh 58 persen kontribusi dari segmen jasa hulu migas serta 37 persen kontribusi dari anak perusahaan di jasa hilir migas. Di sektor hulu, kinerja bisnis perseroan bertumpu pada Oilfield services dan Land Seismic services.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Faktor lain yang turut mendukung raihan laba tersebut juga adalah adanya hasil dari penjualan asset tanah Elnusa dan selisih nilai tukar mata uang,” tulis Sri dalam keterangan resmi, Selasa (17/2).
Pembelanjaan aktiva tetap tersebut merupakan investasi untuk menambah kapasitas peralatan operasi di oilfield services seperti accommodation work barge, electric wireline unit, coiled tubing unit, serta di seismic services seperti geophones dan peralatan pendukung operasi lainnya.
“Selanjutnya, kami tetap optimistis untuk penyelesaian pekerjaan di tahun 2015 ini. Sejumlah proyek tetap menjadi fokus utama kami, terutama di jasa Land Seismic, Hydraulic Workover, Coiled Tubing dan Electric Wireline Logging”, jelas Sri.
Sementara harga saham Elnusa di Bursa Efek Indonesia bergerak positif sejak awal tahun 2014, dibuka pada awal tahun di posisi Rp 335 per lembar dan pada 16 Februari 2015 berhasil ditutup pada posisi Rp 555. (ags/ags)