“Dua tahun terakhir kami memasak dengan memanfaatkan biogas dari kandang sapi. Keperluan memasak dipenuhi dari situ, sedangkan pembelian elpiji hanya untuk berjaga-jaga saja,” ujar Widayat, pengguna biogas sekaligus anggota KTT Andini Lestari dikutip dari laman Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE).
Widayat menjelaskan, sejak 2013 lalu KTT Andini Lestari mendapat asistensi dari pemerintah untuk membangun fasilitas biogas yang kini bisa digunakan secara bergantian oleh anggotanya untuk memasak. Biogas dari tangki penampungan kotoran sapi disalurkan melalui pipa paralon sepanjang 100 meter ke dapur rumah peternak anggota KTT.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Pagi-pagi kotoran sapi dihancurkan sampai lembut. Baru kemudian dimasukkan ke tangki penampungan. Sore harinya sudah dihasilkan biogas yang siap dipakai memasak,” katanya. Tanggungjawab mempersiapkan bahan baku biogas dipikul para pengguna energi terbarukan ini secara bergantian. Termasuk mengalirkan biogas ke kompor.
“Pada tahun 2009 lalu dibantu pemerintah pusat sebanyak 52 ekor sapi. Kini jumlahnya bertambah menjadi 100 ekor lebih. Masyarakat sekitar juga ikut menikmatinya dalam bentuk penggunaan biogas,” jelasnya.
Joko menambahkan, kapasitas tangki yang terbatas menyulitkannya menambah suplai biogas ke rumah tangga. Selain itu dibutuhkan perangkat standar penyaluran gas dari sekadar pipa paralon yang rawan bocor. Jika itu bisa terpenuhi, KTT Andini Lestari siap menyalurkan biogas ke sembilan rumah tangga lainnya. (gen)