Meski begitu, BKPMD Sumut menyanggupi keinginan pemerintah untuk menyukseskan realisasi akumulasi investasi nasional sebesar Rp 3.500 triliun dari tahun 2015 hingga 2019, atau naik dua kali lipat lebih dari realisasi antara tahun 2010 hingga 2014 yang sebesar Rp 1.632,8 triliun.
"Kami mewakili Sumatera Utara siap dengan rencana besar tersebut, dan saya rasa nilai realisasi investasinya akan jauh lebih besar apabila hal ini juga dibantu oleh pihak pusat," ujar Kepala BKPMD Sumatera Utara Purnama Dewi di Jakarta, Senin (23/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Khusus di Sei Mangkei, kami mengalami defisit gas padahal gas itu akan digunakan untuk membangun kawasan industri tersebut," tuturnya.
Selain masalah pasokan gas bumi, investasi di Sumatera Utara juga terhambat akibat masalah listrik. Diakui Purnama, Sumatera Utara masih mengalami defisit listrik sebanyak 300 megawatt meskipun sudah terdapat 15 perusahaan yang ingin menjalin Public Private Partnership (PPP) dengan PT. PLN.
"Meskipun seharusnya listrik ini bisa menjadi sasaran investasi, namun terdapat kekhawatiran adanya penguasaan lahan yang tidak akan dilepas selama bertahun-tahun oleh pemiliknya. Makanya pembebasan lahan ini memang menjadi masalah paling akut untuk investasi listrik di Sumatera Utara padahal kita lagi minim listrik sekarang," tambahnya.
Perlu diketahui bahwa sepanjang tahun 2014, BKPM mencatat adanya realisasi investasi sebanyak Rp 4,22 triliun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan US$ 550,8 juta Penanaman Modal Asing. (gir/gir)