"(Kebijakan Raskin) berjalan normal seperti tahun lalu. Tahun 2015 (anggarannya) sekitar Rp 18 triliun," ujarnya kepada CNN Indonesia, Rabu (25/2).
Sebelumnya, Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro menyatakan pemerintah akan menghapus pemberian subsidi pangan dalam bentuk beras. Menurutnya, cara yang paling tepat dan tepat sasaran untuk mendukung ketersediaan beras bagi keluarga miskin adalah dengan memberikan subsidi tunai langsung.
"Tidak, tetap normal," jelas Askolani meluruskan pemberitaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Spekulasi itu respon terhadap situasi dan tidak selalu jahat. Wajar saja karena pedagang juga mau untung," ujarnya kepada CNN Indonesia, Selasa (24/2).
Lenny menyebut ada faktor administrasi yang menghambat penyaluran raskin dan mengakibatkan harga beras di masyarakat melonjak hingga 30 persen. Namun, dia enggan menjelaskan lebih lanjut mengenai maksud dari faktor administrasi tersebut.
Anggaran Belum Cair
Dalam APBNP 2015, Perum Bulog mendapatkan suntikan modal negara sebesar Rp 3 triliun. Meskipun belum cair, Lenny Sugihat mengatakan Bulog akan mengoptimalkan PMN tersebut untuk menyerap sebanyak mungkin beras dari petani.
“Dana PMN yang diperoleh Bulog selain untuk modal kerja juga akan digunakan untuk pengadaan beras. Sekitar 417 ribu ton beras bisa kami beli dari petani dengan menggunakan PMN saja,” kata Lenny di Gudang Bulog di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu (25/2).
Disinggung mengenai soal itu, Dirjen Anggaran Askolani mengatakan bukan hanya Bulog, puluhan BUMN yang mendapat jatah PMN juga belum mendapatkan kucuran modal. Menurutnya, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) yang akan menjadi eksekutor penyalur uang negara tersebut.
"Belum, nanti DJKN yang memproses semua PMN," tuturnya. (ags/gen)