"Dananya (PMN) memang murni untuk pembiayaan infrastruktur. Jadi tidak dikaitkan dengan Newmont lagi (sesuai) arahan Menteri Keuangan," kata Direktur Utama SMI Emma Sri Martini di Jakarta, Rabu (25/2).
Sebelumnya, PIP telah menandatangani perjanjian jual beli atau sale and purchase agreement (SPA) dengan Newmont untuk membeli saham perseroan senilai US$ 246,8 juta pada 6 Mei 2011. Dalam perjalanannya, perjanjian ini telah mengalami beberapa kali amandemen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini menurut Emma, yang menjadi perhatian SMI adalah pengalihan seluruh aset PIP sehingga bisa melapangkan proses transformasi SMI menjadi Lembaga Pembiayaan Pembangunan Indonesia (LPPI). Proses pengalihan aset PIP ditargetkan akan rampung oleh Menteri Keuangan sekitar Agustus 2015 sehingga pada September 2015 SMI sudah dapat berjalan dengan fungsi barunya.
Fokus Tiga Sektor
Emma mengungkapkan fokus pembiayaan SMI tahun ini akan sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan Menengah (RPJPM) pemerintah.
"Dari sisi sektornya pastinya kita akan in line dengan yang sudah digariskan oleh pemerintah melalui RPJMN di mana fokus (sektor) transportasi, (sektor) kemaritiman dan juga sektor energi itu masih diutamakan," kata Emma.
Perusahaan pelat merah di bawah naungan Kementerian Keuangan ini akan berusaha terlibat dalam pembiayaan pembangunan dan revitalisasi bandara serta pembangunan ruas jalan Trans Sumatera di sektor transportasi sedangkan untuk sektor kemaritiman SMI akan mencoba masuk ke pembiayaan pembangunan dan revitalisasi pelabuhan. Di sektor energi, SMI akan mendorong pengembangan energi terbarukan.
Direktur Pembiayaan dan Investasi SMI Edwin Syahruzad menambahkan proyek-proyek yang menjadi prioritas utama adalah proyek dari BUMN yang mendapatkan suntikan PMN untuk pembangunan infrastruktur.
"First priority itu adalah kita menggarap proyek-proyek yang mungkin kemarin diselenggarakan antara lain oleh BUMN-BUMN infrastruktur yang kemarin memperoleh penambahan modal. Itu yang paling first priority karena di situ kan sudah nyata," ujar Edwin pada kesempatan yang sama.
Kendati demikian, Edwin tidak menutup kesempatan untuk bekerja sama dengan BUMN lain yang tidak memperoleh suntikan modal pemerintah selama proyek dinilai memiliki dampak pembangunan yang besar. (gen)