Kondisi ini sejalan dengan penundaan sejumlah proyek eksplorasi dan perawatan sumur akibat turunnya angka investasi sektor hulu migas 2015.
"Sebenarnya dampaknya bisa dilihat dari turunnya nilai investasi di sektor hulu migas. Kan hampir 80 persen investasi diserap oleh perusahaan penunjang migas. Makanya kami yang paling berdampak kalau-kalau KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama) mengerem investasinya," tutur Pandri di Jakarta, Kamis (26/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pandri menjelaskan menurunnya angka proyeksi investasi dilatarbelakangi oleh pelemahan harga minyak dunia yang berimbas pada ditundanya sejumlah kegiatan produksi kontraktor kontrak kerjasama (KKKS). Sayangnya, Pandri enggan membeberkan lebih lanjut proyek mana saja yang mengalami penundaan.
Pada kesempatan berbeda, Staf Ahli Kepala SKK Migas, Haposan Napitupulu tak menampik adanya penundaan kegiatan eksplorasi dan produksi di wilayah kerja migas Indonesia akibat kejatuhan harga minyak.
"Mungkin akan terlihat dalam revisi Work Program and Budgeting (WP&B) Maret ini. Kami memang mempersilakan KKKS untuk mereview tapi catatannya mereka harus menjaga produksi agar sesuai dengan target APBNP 2015," tuturnya.
Sebagai informasi, dari target investasi sebesar US$ 22,2 miliar, sebanyak US$ 14,8 miliar atau sekitar 66,4 persen akan digunakan untuk kegiatan pengeboran 952 sumur work over dan pemeliharaan 38.914 sumur. Adapun biaya pengembangan 783 sumur, diprediksi menelan dana US$ 4,7 miliar atau sekitar 21,2 persen, sedangkan sisanya atau sekitar US$ 2,7 miliar akan digunakan untuk menutupi biaya-biaya lainnya seperti administrasi dan biaya umum. (ags/gen)