Kepala BKPM Franky Sibarani merinci nilai komitmen investasi ke sektor perkebunan di pulau paling timur Indonesia mencapai Rp 9,8 triliun, sedangkan di industri oleochemical sebesar Rp 2,4 triliun. Kelima calon investor tersebut akan diarahkan aktivitas bisnisnya di empat Kawasan Ekonomi Eksklusif (KEK), yakni Sorong, Merauke, Teluk Bintuni, dan Raja Ampat
"Salah satu syarat pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus adalah adanya investor yang siap menggerakkan investasi di wilayah tersebut. Saat ini sudah terdapat calon-calon investor yang ingin berinvestasi di KEK tersebut," ujar Franky Sibarani melalui siaran pers Jumat (27/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang memang sudah terdapat calon investor yang merencanakan investasi tapi ada yang masih terhambat realisasinya. Selain investasi baru, investasi-investasi debottlenecking akan menjadi fokus BKPM," ujarnya.
Meskipun memiliki tugas yang cukup berat, Franky tetap optimis bahwa realisasi investasi serta pengembangan empat kawasan ekonomi khusus di Papua dan Papua Barat dapat terselesaikan. "Saya optimis hal tersebut dapat tercapai karena kesiapan dukungan Kementerian teknis untuk mengembangkan infrastruktur kawasan ini," tuturnya.
Perlu diketahui bahwa realisasi investasi asing di Papua dan Papua Barat pada tahun 2014 mencapai US$ 1,41 miliar atau menurun dibandingkan data tahun 2013 yang mencapai US$ 2,41 miliar. Sementara itu, realisasi investasi dalam negeri pada tahun 2014 mencapai Rp 349,9 miliar atau turun dibandingkan tahun 2013 yang mencapai Rp 888,2 miliar.
Untuk tahun 2015, BKPM sendiri menargetkan realisasi investasi keseluruhan di Papua dan Papua Barat sebesar Rp 33,2 triliun. (ags/ags)