“Ada 16 kementerian dan lembaga yang bersepakat untuk menurunkan dwelling time,” kata Menteri Indroyono Soesilo usai rapat koordinasi di kantornya, di Jakarta, Senin (2/3).
Strategi pemangkasan dwelling time ini adalah dengan mengurangi sumbatan pada waktu pemeriksaan barang sebelum masuk ke bea cukai (pre-clearing custom), waktu di bea cukai (clearing custom), dan waktu setelah pemeriksaan (post clearing custom).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, waktu tunggu barang pada tahapan post clearing custom ditargetkan selesai 1,5 hari. Dengan demikian, proses sampai barang berangkat atau keluar pelabuhan akan hanya menjadi 4,7 hari, plus minus 1 hari.
Adopsi National Single Window
Sistem tata kelola pelabuhan dengan target dwelling time 4-5 hari ini akan mengadopsi proses pengurusan perizinan yang telah diterapkan di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yakni menggunakan sistem Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP).
Direncanakan lokasi operasional penerapan sistem ini adalah di Kemayoran, Jakarta, yang akan melibatkan 16 Kementerian Lembaga dan National Single Window (NSW). Saat ini sistem NSW sudah dikembangkan oleh Ditjen Bea Cukai.
"National Single Window itu sudah ada sekarang tinggal optimalkan saja untuk kita garap bersama. Prinsipnya semua kementerian lembaga siap untuk melaksanakan arahan dari Bapak Presiden untuk membuat ini lebih simpel," ujar Indroyono.
Indroyono mengungkapkan dengan adanya sistem ini diharapkan dapat menekan biaya logistik di Indonesia menjadi di bawah 20 persen Produk Domestik Bruto (PDB). Saat ini biaya logistik di Indonesia masih 24,5 persen PDB.
Menteri Perindustrian Saleh Husin, yang turut hadir dalam rapat, mendukung sistem tersebut. Saleh menilai biaya logistik di Indonesia sangat mahal karena adanya pemeriksaan yang berbelit-belit. Pemangkasan waktu tunggu dan sistem baru dinilai dapat mendukung target pertumbuhan industri sebesar 6,3 sampai 6,8 persen untuk tahun ini.
"Nah yang kami sampaikan adalah bagaimana cost ini bisa ditekan agar kita bisa bersaing dengan negara-negara tetangga,” tutur Saleh. (ded/ded)