"Jika program raskin diganti e-money, akan ada ada 700 ribu sampai 750 ribu orang yang kehilangan pekerjaan karena terhentinya mata rantai penyaluran raskin," ujar Arif Satria, Dekan Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (IPB), dalam diskusi bersama CORE di Jakarta, Selasa (3/3).
Estimasi tersebut, jelas Arif, dihitung berdasarkan jumlah pekerja yang menyalurkan Raskin ke 15,5 juta rumah tangga sasaran (RTS). Dia mengungkapkan 58 titik penyaluran distribusi Raskin di seluruh Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Arif menyatakan angka tersebut belum menghitung jumlah pekerja di bagian pengangkutan, tenaga administrasi dan sebagainya. Apabila ditotal, maka potensi pengangguran bisa mencapai 1 juta tenaga kerja akibat kebijakan penggantian raskin ke e-money.
Arif mengatakan kebijakan tersebut tak hanya berisiko membengkakan jumlah pengangguran, tetapi secara psikologis juga bertentangan dengan program revolusi mental.
CORE Indonesia mencatat saat ini jumlah pengangguran terbuka di Tanah Air mencapai 7,30 juta orang pada Agustus 2014 atau 5,94 persen dari total penduduk. Sementara jumlah pengangguran terbuka di Indonesia berada di tingkat tertinggi pada 2005 yang menembus 11,90 juta jiwa.