“Ke depan ini akan dibangun trem di Surabaya kira-kira sepanjang 17 kilometer (km) dari Wonokromo sampai Kalimas,“ kata Direktur Jenderal Perkeretaapian Hermanto Dwiatmoko di kantornya, Jakarta, Senin (9/3).
Rencananya trem ini akan menggunakan tenaga listrik yang disimpan dalam baterai isi ulang di tempat-tempat tertentu. Selain itu, trem Surabaya juga akan memanfaatkan listrik langsung dari kabel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Teknologi yang berkembang di dunia seperti itu dan saya kira ini cocok dengan Indonesia,” kata Hermanto.
“Saat ini (proyek trem Surabaya) sedang diperiksa pengembangannya oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kemenhub,” ujar Hermanto.
Sementara itu, Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Ditjen Perkeretaapian Kemenhub Hanggoro Budi Wiryawan mengungkapkan saat ini Kemenhub tengah berkoordinasi dengan Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya terkait dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan hal-hal teknis terkait proyek tersebut.
“Ini masih konsolidasi dengan Bappeko Surabaya karena kan untuk AMDAL-nya dan segala macam yang menyiapkan mereka semua. Kami tinggal minta datanya dan kelengkapannya baru kita mulai lelang,” kata Hanggoro dalam kesempatan yang sama.
Selain Surabaya, Kemenhub akan mengembangkan jaringan kereta perkotaan di 14 kota besar di Indonesia selama lima tahun ke depan. Ke-14 kota tersebut diantaranya Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Makassar.
"Kemudian Papua minta juga semacam kereta ringan atau kereta gantung dari Jayapura ke Bandara Sentani,” ujar Hanggoro.
Pemerintah menilai kereta api memiliki beberapa keunggulan dibandingkan moda transportasi lain untuk kawasan perkotaan. Selain dapat mengurangi kemacetan di perkotaan, kereta api juga mengurangi emisi gas buang, dan dapat mengurangi kecelakaan di jalan raya.