Demi menjaga asa untung, pedagang terpaksa menaikkan harga jual, alhasil konsumen harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan perangkat elektronik idaman.
Arifin Muhammad, salah seorang pedagang elektronik, mengatakan kurs dolar yang sudah menembus Rp 13.000 membuat harga barang elektronik ikut naik karena sebagian masih impor. Harga komputer jinjing atau laptop, misalnya, rata-rata telah mengalami kenaikan sekitar 10-15 persen dalam beberapa bulan terakhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selaras dengan itu, harga komponen pendukungnya, seperti hard disk, juga mengalami kenaikan. Contohnya hard disk internal merk Toshiba 500 GB, yang semula dijual Rp 674.000 kini dibanderol dengan harga Rp 900.000.
Demikian halnya dengan harga kamera digital, harga jualnya rata-rata naik Rp 200.000-300.000 per unit sejak pertengahan Januari. Tercatat hampir semua jenis kamera mengalami kenaikan harga, khususnya untuk produk keluaran enam bulan terakhir.
Salah satu toko kamera di ITC Ambassador, membanderol harga kamera Canon EOS650D sebesar Rp 6,76 juta, naik sekitar Rp 300.000 dari sebelumnya. Harga kamera Nikon seri D3200 plus lensa kit juga naik Rp 300.000 menjadi Rp 6,5 juta.
Kamera dengan konsep mirrorless milik Fujifilm, dengan tipe X-M1 beserta lensa kit XC16-50mm, dibanderol dengan harga Rp10 juta atau naik 20 persen dari harga semula. Demikian pula dengan kamera mini berteknologi canggih, GoPro Hero 4 Silver Edition, naik Rp 200.000 menjadi Rp 6,2 juta per unit.
"Dolarnya menguat, jadi harganya ikut naik. Kita ikut kurs harganya. Hampir semua merek harganya ikut naik," ungkap salah satu penjual kamera kepada CNN Indonesia.
Sejak dibuka di level Rp 12.385 per dolar AS pada 1 Januari 2015, Reuters mencatat rupiah telah mengalami koreksi 28 persen. Pada perdagangan Senin (9/3), rupiah ditutup di level Rp 13.055 per dolar AS. (ags)