"Dengan kita sudah tidak ada subsidi (premium), maka perubahan kurs ini tidak akan berpengaruh. Rupiah bergejolak, APBN aman," ujar Bambang menegaskan di Istana Kepresidenan, Rabu (11/3).
Bambang menilai masa-masa kerentanan fiskal sudah lewat. Ketika premium masih disubsidi, gejolak kurs dan harga minyak kerap merepotkan pemerintah. Solusinya kala itu hanya dua, menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) atau memangkas anggaran belanja negara.
"Itu cerita kalau 2014 dan sebelumnya. Pemerintah harus akan merespon (gejolak kurs), apakah menaikkan harga BBM atau memotong belanja, tapi itu history," tuturnya.
Menanggapi dampak depresiasi terhadap beban utang valas pemerintah, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan pengaruhnya tidak akan terlalu besar. Sebab, lanjut Sofyan, porsi utang pemerintah dan BUMN dalam denominasi dolar AS tidak terlalu besar jika dibandingkan utang valas swasta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada kesempatan yang sama, Gubernur Bank Indonesia agus D.W. Martowardojo mengamini pernyataan Sofyan Djalil. Kendati jumlahnya meningkat, Agus menilai nilai utang luar negeri Indonesia tidak setinggi negara lain.
"Kalau pasar uang pada saat sekarang ini cukup ada tekanan dari eksternal dan kita mengikutinya. Yang utama adalah rencana (normalisasi kebijakan moneter) The Fed dan pernyataan pejabat-penjabatnya," jelas Agus. (ags)