"Dalam waktu dekat, mungkin ada suatu bentuk intervensi pasar valas dan rupiah. Untuk itu, kita berusaha terus untuk melakukan pendalaman pasar baik rupiah maupun valuta asing demi mengkaji kebijakan baru ini," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara di Jakarta, Selasa (17/3).
Tirta menjelaskan instrumen NCD sudah mulai digunakan oleh BI sejak tahun lalu. Intervensi baru ini nantinya akan menjadi pelengkap kebijakan yang sudah ada, seperti penambahan suplai valas dan pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk saat ini, lanjut Tirta, BI berupaya keras untuk mengelola depresiasi rupiah agar tak mengganggu perekonomian Indonesia. Menurutnya, pelemahan kurs tak hanya menimpa rupiah, tetapiu juga dialami oleh sebagian besar mata uang di dunia.
Secara umum, BI menilai indikator makroekonomi Indonesia masih dalam kondisi yang baik. Indikatornya adalah deflasi pada Februari sebesar 0,36 persen dan cadangan devisa sebesar US$ 115,5 miliar atau setara tujuh bulan impor.
Namun, BI merasa perlu melakukan pendalaman pasar keuangan mengingat depresiasi rupiah pada Februari rata-rata mencapai 1,38 persen (month-to-month) ke level Rp 12.757 per dollar AS. Selain itu, data BI juga menunjukkan adanya depresiasi (point-to-point) sebesar 1,99 persen dan ditutup di level Rp 12.925 per dollar AS. (ags)