"Sekarang harapan harga minyak membaik hanyalah fatamorgana. Banyak analis menyebut harga minyak akan tetap rendah di level US$ 40 per barel, sementara saya memprediksi harga bisa menyentuh US$ 30 jika ada kebijakan yang signifikan," ujar Kepala Analisa Price Information Service, Tom Kloza seperti dikutip dari CNN Money, Rabu (18/3).
Kloza berpandangan pemberian sanksi terkait penggunaan energi nuklir diyakini akan menggenjot besaran produksi sekaligus peningkatan ekspor minyak Iran. Pasalnya, negara yang dipimpin oleh Presiden Hassan Rouhani itu akan kembali menjadikan minyak mentah sebagai salah satu pemasukan terbesar negara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Genjot Produksi dan Ekspor
Berdasarkan informasi yang dikumpulkan, Iran sudah mulai mengurangi ekspor minyak pasca sanksi AS dan putusan mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad menggalakan penggunaan nuklir dalam rangka menghemat biaya energi domestik. Saat ini, angka ekspor minyak Iran hanya berkisar 1,3 juta barel per hari (Bph), atau kurang dari setengahnya ketimbang produksi di pertengahan 2012 sebesar 2,5 juta Bph.
Menyusul putusan mengenai sanksi AS, harga minyak dunia di pasar West Texas Intrermediate (WTI) dikabarkan turun 2,19 persen menjadi US$43.88 per barel sementara untuk index Brent, minyak mentah diperdagangkan pada level US$ 53,44 per barel atau turun 2,30 persen. (dim/dim)