Bahkan demi benjamin ketersediaan pasokan SPBG untuk konsumen transportasi tersebut, badan usaha milik negara (BUMN) itu sampai harus mengalihkan sebagian jatah pasokan gas untuk industri ke sektor transportasi.
"Tahun 2015 seharusnya kami dapat 10,6 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) untuk sektor transportasi. Nah ini yang akan kami gunakan untuk menyuplai SPBG-SPBG yang akan kami bangun," kata Danny Praditya, Direktur PT Gagas Energi Indonesia, anak usaha PGN yang menjadi operator SPBG di sela acara Natural Gas Vehicles & Infrastructure Indonesia Forum & Exhibition, Kamis (19/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menjelaskan, kapasitas penyaluran CNG untuk masing-masing SPBG bervariasi tergantung lokasi dan kebutuhan. "Ada yang setengah MMSCFD, ada yang 1 MMSCFD, dan ada yang bisa sampai 2 MMSCFD,” jelas Danny.
"Ini yang kami tunggu dari pemerintah karena belum bisa jalan, perjanjian jual beli gas (PJBG) untuk SPBG seperti ini belum ada," tuturnya.
Converter Gratis
Demi meningkatkan minat masyarakat untuk mau beralih ke BBG, Danny menjelaskan PGN memiliki satu strategi yaitu dengan cara membagikan 50 unit converter kit secara gratis untuk setiap SPBG yang baru. Converter akan dibagikan kepada kendaraan umum dan kendaraan dinas pemerintah.
"Kalau satu lokasi dapat 60 converter, dikali 15 SPBG total jadi 750 unit converter harus kami siapkan,” katanya.
Dia berharap ada dukungan dari pemerintah terkait upaya penetrasi pasar ini agar menarik minat swasta untuk bergabung. "Kalaupun pemerintah tidak jalan, beberapa end user kami sudah mau investasi dan kami siap untuk memfasilitasi pembiayaan kredit. Ini semacam tes pasar, kalau demand bagus harapannya bisa diproduksi massal," katanya.