"Katakanlah naik sedikit Rp 500 per liter jadi Rp 7.200 per liter atau Rp 7.300 per liter. Walaupun belum ditentukan besarannya oleh pemerintah tapi saya pikir tidak akan memberikan efek langsung yang besar pada inflasi. Begitupun dengan (efek) yang tidak langsung," ujar Anton kepada CNN Indonesia, Selasa (24/3).
Anton menjelaskan, tidak signifikannya dampak kenaikan harga BBM terhadap inflasi tak lepas dari kian rendahnya bobot (weight) inflasi nasional yang saat ini berada tak lebih dari 3 persen. Berangkat dari skenarionya, ia pun meyakini kenaikan tersebut tak akan menjadikan besaran inflasi April meningkat secara signifikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berangkat dari analisa tersebut, Anton pun meminta agar masyarakat mulai membiasakan diri dengan fluktuasi harga BBM. Ini dilakukan agar masyarakat dapat menyiasati besaran konsumsi dengan perhitungan yang matang tatkala pemerintah menaikan harga jual BBM.
"Ini terlalu singkat dan pengusaha akan sulit mengalkulasi hitungan bisnisnya. Terlepas itu memang hak pemerintah tapi sudah seyogyanya mereka bisa lebih seksama dalam menentukan harga jual BBM Kalau tidak, saya pikir pemerintah seolah-olah tak memilik grand design (kebijakan) yang baik di sektor energi," tuturnya.
(ded/ded)