"Petral dari dulu selalu dijadikan tumbal oleh Direksi Pertamina karena ujung-ujungnya yang memutuskan pembelian minyak impor itu ISC Pertamina. Kalau benar-benar sudah melakukan transformasi, apa salahnya jika data maupun dokumen yang ada di buka," ujar Yusri di Jakarta, Selasa (24/3).
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas Faisal Basri, sebanyak 6 juta dari 9 juta barel minyak mentah per bulan yang akan diimpor ISC tahun ini telah diamankan Petral dengan tenor kontrak selama 6 bulan. Berangkat dari hal tersebut, Yusri pun meminta pemerintah dan Direksi Pertamina yang baru segera melakukan audit ketat terhadap dokumen mengenai pengadaan minyak impor.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sayangnya, sampai berita ini diturunkan Vice Presiden ISC Daniel Purba masih belum membalas pertanyaan melalui pesan singkat. Padahal pekan lalu Daniel berjanji akan membuka data-data mengenai minyak impor yang sudah diamankan manajemen Petral di era Bambang Irianto menjabat sebagai Presiden Direktur. "Saya sedang di Karimun, Kepulauan Riau. Minggu depan saya respons," ujar Daniel tengah pekan lalu.
Sebelumnya, Faisal Basri menjelaskan bahwa impor BBM yang sudah dibuat Petral memiliki tenor enam bulan atau hingga Juni 2015 mendatang. "Mereka betul-betul mengantisipasi rekomendasi tim dengan melakukan ini. Biasanya kontrak itu tiga bulan, tapi sekarang sudah di cover enam bulan. Ini merupakan bentuk dan cara mafia," jelasnya. (dim/gen)