"Kekuatan industri makanan minuman kita bukan hanya karena ditopang pasar domestik tapi juga karena kemampuan kita yang sudah mengekspor. Kita bukan jago kandang," kata Menperin Saleh Husin di pabrik biskuit GarudaFood Group, Gresik, Jumat (27/3).
Kinerja ekspor yang meningkat menjadi dasar keyakinan Saleh Husin. Apabila pada 2013 nilai ekspor produk makanan dan minuman sebesar US$ 5,38 miliar, maka pada 2014 menguat menjadi US$ 5,51 miliar. Sebaliknya, nilai impor produk makanan minuman justru menurun dari US$ 5,80 miliar menjadi US$ 5,76 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Industri ini, lanjut Menperin, juga berperan penting dalam meningkatkan nilai tambah produk primer hasil pertanian, sebagai penggerak utama ekonomi di berbagai wilayah di Indonesia dan mendorong tumbuhnya industri-industri lainnya.
Disisi lain, Menperin juga realistis. Prospek industri makanan dibayangi permasalahan antara lain kekurangan bahan baku, infrastruktur yang terbatas, kurangnya pasokan listrik dan gas, dan suku bunga yang tinggi untuk investasi.
"Untuk itu, Kementerian Perindustrian selalu melakukan koordinasi dengan stakeholders dan juga kementerian lainnya. Misalnya, perbaikan di bidang iklim usaha baik fiskal maupun non-fiskal," ujar dia.
Perbaikan itu antara lain penyediaan bahan baku dari lokal, penyediaan bunga bank yang bersaing, dan insentif perpajakan untuk investasi. Selain itu peningkatan infrastruktur, penyediaan listrik dan gas yang mencukupi, sistem pelayanan perizinan dan non perizinan satu pintu dan kebijakan lainnya yang dapat mempercepat pengembangan sektor industri.
Senada dengan Menperin Saleh Husin, manajemen GarudaFood sendiri juga memastikan bakal memperkuat ekspansi. Langkah itu meliputi jangkauan pemasaran dan investasi.
"Tahun ini, kami sudah menyiapkan investasi sebesar Rp 550 miliar rupiah untuk pabrik dan mesin baru. Kami juga mengekspor produk ke luar negeri seperti Thailand dan Filipina," Presiden Komisaris GarudaFood, Dorodjatun Kuntjoro-Jakti pada kesempatan yang sama. (ags/ags)