"Pengunduran diri Yunani dapat menimbulkan dampak diluar ranah data ekonomi dan statistik keuangan. Kemungkinan besar pengunduran diri tersebut akan meningkatkan ketidapastian politik karena desakan dari negara lain untuk konsesi atas komitmen mereka atau dapat merupakan preseden bagi negara lain untuk meninggalkan Zona Eropa," jelas ekonom PwC, Richard Boxshall melalui keterangan tertulis PwC yang dikutip Minggu (29/3).
Boxshall mengungkapkan, terdapat dua faktor kuat yang memicu keluarnya Yunani dari Uni Eropa. Pertama, krisis kredit yang menyebabkan berlanjutnya arus keluar modal domestik yang mengakibatkan Yunani semakin bergantung pada dana Bantuan Likuidas Darurat atau Emergency Liquidity Assistance (ELA) yang mahal dan terbatas. Kedua, perihal kembali digunakannya mata uang drachma pasca keluarnya Yunani dari UE.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berangkat dari dua hal tadi, ia pun menyakini pengunduran diri Yunani dapat menimbulkan persoalan mengenai peran Yunani di UE dan NATO, bahkan memicu ketidakpastian yang lebih luas di sisi ekonomi mapun politik kawasan. Ini akan terjadi jika masing-masing pemerintah Zona Eropa gagal menyepakati perpanjangan program dana talangan bagi Yunani.
Untuk itu, Boxshall berharap negara-negara zona Eropa bisa menemukan kesepakatan pada kuartal ketiga 2015 demi mencegah arus keluar deposito dari bank-bank Yunani ke lembaga keuangan Zona Eropa lainnya. Selain itu, Boxshall pun menyimpulkan pemerintah Yunani harus tetap berfokus pada agenda pertumbuhan ekonomi dengan prioritas utama mengurangi tingkat pengangguran yang saat ini mencapai 26 persen.
"Pertumbuhan kembali tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat Yunani tetapi juga membuka jalan untuk memperoleh solusi untuk menjamin kedudukan Yunani di Zona Eropa,” pungkasnya. (dim/dim)