“Terkait letter of credit, pasti ada efeknya karena menambah biaya. Dan pasti membebani, karena harga kan tidak bisa diintervensi,” jelas Direktur Utama Antam, Tedy Badrujaman usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di Jakarta, Selasa (31/3).
Sayangnya, Tedy tidak mengungkapkan lebih lanjut besaran efek pengenaan L/C terhadap kinerja dan posisi keuangan Antam. Namun, direksi baru Antam tengah memutar otak guna keluar dari keterpurukan setelah pada tahun lalu mengalami rugi bersih Rp 775 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Tedy menyatakan program penghematan biaya dan optimalisasi kinerja operasional menjadi prioritas utama Antam. Hal ini penting untuk dapat menghadapi beragam tantangan pada tahun ini.
Dengan tantangan yang dihadapi, Tedy menambahkan perseroan berkomitmen untuk mengakselerasi realisasi proyek pertumbuhan hilir (downstream) dalam rangka meningkatkan nilai tambah cadangan dan sumber daya yang dimiliki.
Pada 2015, Antam menargetkan produksi sebesar 20.400 ton nikel dalam feronikel (TNi) dengan angka penjualan diharapkan mencapai 22.000 TNi. Sementara itu, penjualan emas ditargetkan sebesar 9.963 kg (320.318 toz).
Menyusul operasi komersial pabrik Chemical Grade Alumina (CGA) di Tayan, Kalimantan Barat, Antam menargetkan volume produksi CGA sebesar 157.000 ton alumina dengan volume penjualan 149.000 ton pada 2015.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said mengaku telah bersepakat dengan Menteri Perdagangan Rahmat Gobel untuk mengeluarkan industri minyak dan gas dari ketentuan wajib guna L/C. Kewajiban penggunaan L/C yang dikeluarkan oleh Kementerian Perdagangan dinilai Menteri ESDM akan menganggu proses bisnis migas.
(ags/gen)