Bangun Kereta Ringan, Jokowi Bentuk Konsorsium BUMN-Swasta

Resty Armenia, CNN Indonesia | Rabu, 01/04/2015 18:46 WIB
Bangun Kereta Ringan, Jokowi Bentuk Konsorsium BUMN-Swasta Kereta cepat Shinkansen Nozomi N700 tiba di Stasiun Shinagawa, Tokyo, Jepang. (CNN Indonesia/Ghettog76)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo akan membentuk konsorsium BUMN dan swasta untuk menggarap proyek kereta ringan atau Light Rail Transit (LRT), yang akan melintas di atas jalur Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Tiga BUMN dari tujuh perusahaan yang sudah memastikan diri akan bergabung dalam konsorsium adalah PT Jasa Marga (Persero), PT Industri Kereta Api (INKA), dan PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Adityawarman, Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero), menjelaskan proyek transportasi massal LRT tersebut menjadi perhatian Jokowi karena mempertimbangkan kondisi Ibu Kota yang macet setiap hari. Untuk itu, presiden minta segera dibentuk tim terintegrasi untuk mengeksekusi proyek LRT pada tahun ini.


"(Instruksi Jokowi) lagi dikerjakan bersama dengan Pemda DKI, makanya Pak Gubernur DKI Jakarta (Basuki Tjahaja Purnama)  dipanggil, karena itu bermuara semuanya di Jakarta," jelas Adityawarman di Istana Kepresidenan, Rabu (1/3).

Menurut Adityawarman, ada sekitar tujuh perusahaan yang akan membentuk konsorsium guna mengeksekusi proyek LRT secara bersama-sama. Dalam konsorsium tersebut juga akan melibatkan pemodal asing yang memiliki pengalaman mengembangkan moda kereta cepat, antara lain dari Jepang dan Tiongkok. (Baca juga: BKPM: Pemodal Tingkok dan Jepang Berebut Proyek Kereta Cepat)

"Kalau tidak salah ada tujuh perusahaan. Jasamarga, INKA, KAI, dan para kontraktor lain. Jadi sinergitas," jelasnya.

Subsidi Pemerintah

Soal pendanaan, Adityawarman menjelaskan beban biaya akan menjadi tanggung jawab pemerintah dan perusahaan konsorsium. Adityawarman belum bisa merinci proporsi pendanaannya, tetapi untuk menekan tarif akan ada subsidi dari pemerintah.

"Ini kan untuk transportasi publik, jadi tidak mungkin tarifnya mahal. Makanya pemerintah mau memberikan subsidi berapa. Nanti dihitung balik," katanya.

Dalam dua pekan ke depan, lanjut Adityawarman, akan ada pembahasan lanjutan mengenai proyek LRT. Kesempatan tersebut juga akan digunakan untuk mengelaborasi kesiapan proyek Mass Rapid Transportation (MRT).

"Ini bersama-sama dengan MRT karena banyak koridornya. Kalau MRT saja tidak cukup mengatasi kemacetan," katanya.

Kesuksesan LRT dan MRT, kata Adityawarman, diharapkan dapat mengurangi kemacetan di Jabodetabek hingga 30 persen dari kondisi saat ini. "30 persen sudah cukup bagus," ucapnya. (ags/ags)
mrt


ARTIKEL TERKAIT