“Saya meminta kepada Isuzu terutama kepada prinsipal agar untuk produksinya tidak hanya dipasarkan di dalam negeri tetapi minimal 50 persen produksinya harus diekspor ke negara lain,” tutur Saleh Husin ketika meresmikan pabrik baru Isuzu di Karawang, Jawa Barat, Selasa (7/4).
Pemerintah, lanjut Saleh, terus mendorong agar industri otomotif yang ada saat ini tidak hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar, tetapi juga berorientasi ekspor. Dengan demikian, sumbangan industri otomotif terhadap devisa negara diharapkan bertambah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Permintaan Pak Saleh (Menperin Saleh Husin) merupakan tantangan buat kami. Tahun depan kita harapkan 20 persen ekspor dan untuk 50 persen untuk tahun tahun berikutnya," ujar Yohannes.
Adapun kapasitas produksi CBU Isuzu di pabrik barunya ditargetkan sebanyak 52 ribu unit per tahun, yang terdiri dari 45 ribu unit truk ringan Isuzu Elf, dan 7 ribu unit truk menengah Isuzu Giga. Nantinya kapasitas tersebut akan ditingkatkan menjadi 80 ribu unit per tahun.
Senada dengan Yohannes, Ketua Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Sudirman Maman Rusdi menyatakan diperlukan waktu dan persiapan untuk mengekspor 50 persen produk otomotif produksi domestik. Sudirman menyebutkan kapasitas pabrik perakitan otomotif di Indonesia saat ini adalah 2 juta unit per tahun, sementara tahun lalu ekspor CBU masih berkisar 207 ribu unit atau 10 persennya.
“Persiapan (ekspor)-nya itu pasarnya harus dicari, dan pasar (ekspor) sendiri harus kerjasama dengan prinsipal yang mempunyai jaringan dan paham kondisi yang di luar,” tutur Sudirman. (ags)