"Tujuannya, agar tercipta pembangunan industri yang berkelanjutan dengan struktur dan kapabilitas industri yang tangguh serta nilai tambah yang tinggi," kata Menteri Perindustrian Saleh Husin saat dihubungi CNN Indonesia, Jumat (10/4).
Saleh menjelaskan peran industri makanan-minuman cukup kuat karena bisa menyerap tenaga kerja hingga 1,6 juta orang. Saleh menjelaskan, industri agro dengan subsektor industri pangan olahan akan menjadi salah satu prioritas program pemerintah untuk dibantu perkembangannya melalui suatu kelompok kerja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, Saleh menilai penguatan industri makanan minuman mampu memberi kontribusi pada pembangunan ekonomi nasional. Pada 2014 kontribusi industri makanan dan minuman (termasuk tembakau) secara kumulatif terhadap produk domestik bruto (PDB) non migas sebesar 36,94 persen. Pertumbuhan cabang industri ini terhadap industri non-migas mencapai 8,8 persen.
"Terutama makanan pokok, akan berpengaruh pada ekonomi secara keseluruhan," kata JK beberapa waktu lalu.
Investor Asing
Berdasarkan perhitungan Kementerian Perindustrian, investasi sektor industri makanan dan minuman bisa memberikan kontribusi sebesar 33,3 persen dari total investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Sedangkan untuk penanaman modal asing (PMA), investasi sektor industri makanan memberikan kontribusi sebesar 25,09 persen.
Saat ini nilai investasi PMA ini mencapai US$ 2,54 miliar atau meningkat 71,34 persen dibandingkan periode tahun sebelumnya.
Diantara investor asing, Jepang masih masuk lima besar investor terbesar dalam negeri. Realisasi penanaman modal dari negara ini mencapai US$ 412,1 miliar sepanjang periode 2010-2014.
"Target Indonesia baru sesuai Nawa Cita Kabinet Kerja antara lain kedaulatan pangan akan diupayakan seluas-luasnya dengan memanfaatkan sumber daya dalam negeri melalui pengembangan industri berbasis agro, baik sebagai bahan pangan pokok mapun untuk memenuhi bahan baku industri makanan dan minuman," kata Saleh. (gen)