"Tahun 2003, BRI melakukan IPO (penawaran saham perdana ke publik). Sekarang market capital-nya hampir Rp 318 triliun. Dulu sebelum IPO (hanya) Rp 11 triliun-an. Dan kontribusinya buat negara meningkat," ujar Direktur Utama BEI Ito Warsito dalam sebuah seminar mengenai BUMN di Jakarta, Kamis (23/4).
Ito mengatakan meski sudah menjadi perusahaan milik publik, fungsi dan misi BRI sebagai agen pembangunan tidak hilang di tengah kesibukan perseroan mencari keuntungan. "Mereka tetap berkomitmen melayani nasabah-nasabah kecil di daerah," katanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Coba bandingkan sebelum IPO, laba masih hitungan miliaran. Meski pemerintah dapat keuntungan dari perusahaan 100 persen, namun nilainya kecil hanya miliar. Kalau IPO triliunan. Bedanya besar sekali," katanya.
Salah Konsep
Ito yang sejak 1994 sudah berkecimpung di dunia bursa mengaku banyak mengetahui seluk beluk aksi BUMN di pasar modal. Menurutnya, sampai saat ini baru 20 perusahaan pelat merah dari total 118 BUMN yang telah tercatat di bursa.
"Mereka berpikir harus memperbesar perusahaan terlebih dahulu baru nanti melakukan IPO sehingga hasilnya besar. Namun konsep tersebut menurutnya salah," katanya.
Menurutnya, sampai sekarang perusahaan yang berfikir demikian tidak kunjung mencatatkan sahamnya di bursa karena sibuk dan fokus memperbesar perusahaan tanpa hasil yang jelas. "The game is always the same," katanya.