Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK.02/2015 tentang Imbalan yang Berasal dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Royalti Paten Kepada Inventor, yang terbit pada 6 April 2015.
Inventor adalah orang yang secara sendiri atau beberapa orang yang secara bersama-sama melaksanakan ide yang dituangkan ke dalam kegiatan yang menghasilkan invensi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada empat lapisan nilai imbalan yang bisa diberikan kepada para inventor. Persentase imbalan tertinggi sebesar 40 persen dari royalti, diberikan kepada inventor yang berkontribusi terhadap PNBP Rp 100 juta ke bawah.
Sementara itu, untuk PNBP royalti di atas Rp 1 miliar, inventor berhak atas imbalan 10 persen dari nilai royalti.
Untuk inventor perorangan, seluruh imbalan diberikan sesuai dengan formula perhitungan. Sementara untuk inventor tim yang bersifat kolegial, imbalan akan dibagi sama besar sesuai dengan jumlah anggota tim.
Sedangkan untuk tim yang berjumlah lima orang, yang memiliki struktur kepengurusan, maka imbalan dibagi secara proporsional sesuai dengan tingkat jabatan. Untuk ketu atim berhak atas 40 persen imbalan, sedangkan untuk wakil ketua hingga anggota berhak mendapat 30 persen.
Selanjutnya untuk inventor tim di atas lima orang, pembagian imbalan berbeda. Ketua tim mendapat jatah 30 persen, wakil ketua atau sekretaris 20 persen, dan sisanya 50 persen dibagi ke seluruh anggota.
"Pemberian Imbalan bertujuan untuk mendorong pertumbuhan kegiatan inovasi yang berorientasi Paten dan meningkatkan PNBP Royalti Paten atas inovasi tersebut," jelas Menkeu dalam beleid tersebut.
(ags)