Kepala BKPM Franky Sibarani menjelaskan investasi yang masuk selama periode Januari-Maret 2015 berasal dari penenaman modal asing (PMA) sebesar Rp 72 triliun dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) Rp 34,6 triliun. Sektor usaha yang menyerap investasi terbesar adalah sektor pertambangan, yakni mencapai Rp 15 triliun atau 12 persen dari realisasi penanaman modal kuartal I 2015.
"Realisasi investasi kuartal pertama tahun ini memberikan gambaran positif investasi di Indonesia, di mana kita mengalami pertumbuhan 22,8 persen untuk PMDN dan 14 persen untuk PMA dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu," ujar Franky di Jakarta, Selasa (28/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Semoga persentase lokasi investasi di luar Jawa akan meningkat seiring dengan kebijakan pemerintah untuk memberikan insentif bagi reinvestasi, sesuai dengan yang tercantum di Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2015," jelas Deputi Bidang Pengendalian Penanaman Modal BKPM Azhar Lubis.
Secara kuartalan, Azhar Lubis mengatakan realisasi investasi Tiongkok menurun dibandingkan dengan kuartal IV 2014, dari US$ 500 juta menjadi US$ 146,5 juta. Tiongkok berada di peringkat ke-10 negara dengan jumlah PMA terbesar.
"Proyek dari Tiongkok kebanyakan bergerak di bidang Mineral seperti pengolahan nikel di Sulawesi dan pengolahan Bauksit di Kalimantan. Harapannya semoga komitmen proyek-proyek mereka yang tercipta di tahun ini bisa segera terelisasi," tuturnya. (ags/gen)