“Basically memang kalau ekonomi akan melambat, maka pasar cenderung over reaktif. Hal itulah yang menyebabkan bursa saham sempat anjlok pada minggu lalu,” ujar Purbaya Yudhi Sadewa, mantan Kepala Ekonom Danareksa Research Institute kepada CNN Indonesia, Minggu (3/5).
Menurutnya pria yang sekarang menjabat sebagai Deputi III Kantor Kepresidenan Bidang Pengelolaan Isu Strategis mengungkapkan investor sebaiknya menggunakan angka Produk Domestik Bruto (PDB) sebagai acuan untuk melihat apakah benar perekonomian akan melambat atau tidak. Di sisi lain, investor juga patut melihat rencana pemerintahan Joko Widodo ke depannya, terutama di bidang infrastruktur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Purbaya menjelaskan, perekonomian Indonesia masih berpotensi membaik karena kinerja ekspor masih surplus dibandingkan impor. Hal itu menurutnya masih positif meskipun belanja rumah tangga tidak secepat yang sebelumnya.
“Belanja pemerintah juga belum maksimal. Sampai bulan Maret, belanja Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk infrastruktur juga masih sangat rendah. Tapi yang saya ketahui akan ada penambahan setelah Mei dan akan ada percepatan penyaluran anggaran,” katanya.
Sepanjang pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok sebesar 348,9 poin atau 6,42 persen dan bertengger di level 5.086. Investor asing tercatat melepas 1,28 miliar lembar saham di bursa nasional dalam empat hari menjelang Mei, dengan nilai modal asing yang keluar secara bersih mencapai Rp 7,09 triliun.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat nilai kapitalisasi saham selama periode 27-30 April 2015 sebesar Rp 5.146,75 triliun. Angka tersebut mengalami penurunan drastis dibandingkan kapitalisasi selama periode 20-24 April 2015, yang tercatat sebesar 5.479 triliun. Dengan demikian dalam empat hari terakhir di bulan April, modal yang menguap di bursa saham nasional mencapai Rp 332,25 triliun.