Permintaan Merosot, Laba Holcim Indonesia Jeblok 89,78 Persen

Giras Pasopati, CNN Indonesia | Rabu, 06/05/2015 19:30 WIB
Holcim Indonesia mencatat penurunan pendapatan sebanyak 5 persen, menjadi Rp 2,25 triliun, dengan penurunan volume sebesar 7 persen di tiga bulan pertama 2015. Pabrik, fasilitas produksi dan transportasi semen Holcim. (Dok. Holcim)
Jakarta, CNN Indonesia -- Produsen semen, PT Holcim Indonesia Tbk mencetak laba bersih untuk kuartal pertama tahun ini senilai Rp 33 miliar, anjlok 89,78 persen dibandingkan dengan Rp 323 miliar pada kuartal yang sama di tahun 2014 karena melemahnya permintaan semen nasional.

Holcim Indonesia mencatat penurunan pendapatan sebanyak 5 persen, menjadi Rp 2,25 triliun, dengan penurunan volume sebesar 7 persen di tiga bulan pertama 2015 dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2014.

Direktur Keuangan Holcim Indonesia, Kent Carson mengatakan hal itu dikarenakan pasar semen Indonesia yang melemah. Permintaan semen nasional menurun hingga 13,9 juta ton dibandingkan dengan pertumbuhan sebesar 4 persen atau 14,3 juta ton selama kuartal pertama tahun lalu.


“Selain itu, atas himbauan permintaan Pemerintah, perusahaan semen milik negara menurunkan harga sebesar Rp 3.000 per sak yang kemudian berdampak ke seluruh industri. Sayangnya, intervensi ini, yang berdampak pada harga pasar secara keseluruhan, telah gagal menstimulasi peningkatan permintaan sejauh ini,” jelasnya dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (6/5).

Sementara, lanjutnya, biaya dibandingkan dalam periode yang sama telah terjadi peningkatan, yang disebabkan oleh kenaikan biaya energi, tanaga kerja dan harga bahan baku secara umum, serta biaya-biaya peningkatan kapasitas dan penambahan fasilitas produksi di Holcim Indonesia.

“Harga bahan baku lebih tinggi 30 persen, biaya tenaga kerja lebih tinggi 27 persen, dan biaya listrik telah meningkat secara terus menerus selama 2014 hingga lebih dari 60 persen. Kenaikan-kenaikan ini terlihat dari penurunan laba kotor sebanyak 23 persen dari Rp 689 miliar menjadi Rp 533 miliar,” jelasnya.

Melemahnya pasar yang menyebabkan penurunan pada volume penjualan, tidak membuat biaya penjualan dan distribusi berubah. Lebih dari itu, biaya umum dan administrasi melonjak lebih tinggi dengan adanya pekerjaan pada proyek administratif.

Kent juga mengakui, peningkatan utang untuk mendanai peralatan dan konstruksi proyek Tuban menyebabkan beban keuangan yang lebih tinggi, yaitu meningkat sebesar 23 persen menjadi Rp 100 miliar.

“Industri semen secara keseluruhan mengalami tantangan berat dengan kondisi ekonomi yang mengalami penurunan, serta kekosongan stimulus belanja fiskal yang diharapkan untuk peningkatan infrastruktur sejauh ini,” ungkap Kent.

Dia menjelaskan, di waktu yang sama, kompetisi telah meningkat secara signifikan dengan adanya pemain-pemain baru yang patut diperhitungkan, yang telah menyebabkan kelebihan pasokan di pasar sementara biaya terus meningkat tajam.

Menanggapi kondisi ini, perusahaan telah mempertimbangkan langkah-langkah untuk menurunkan pengeluaran tambahan dan meningkatkan produktifitas. “Kami telah menginisiasi beberapa program di tahun 2015 untuk merampingkan operasional kami, serta memastikan bahwa kami akan dapat beroperasi dengan lebih efisien disertai penurunan biaya agar dapat mempertahankan keuntungan dalam kondisi pasar yang melemah ini,” ujar Kent Carson.

Lebih lanjut, dia menambahkan, langkah-langkah tersebut akan membantu untuk memastikan pihaknya siap dalam menghadapi masa depan, di mana perseroan berharap sektor konstruksi akan dapat kembali bergairah sejalan dengan terealisasinya rencana infrastruktur Pemerintah, bersama dengan proyek-proyek perumahan dan properti komersial yang sangat dibutuhkan saat ini.
(gir)


ARTIKEL TERKAIT