Pelemahan IKK tersebut didorong oleh penurunan kedua komponen pembentuknya, yaitu Indeks Kondisi Ekonomi Terkini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang masing-masing turun sebesar 8,6 dan 10,3 poin dari bulan sebelumnya.
Hasil survei BI juga mengindikasikan bahwa konsumen memperkirakan tekanan kenaikan harga pada Juli 2015 semakin meningkat sejalan dengan tingginya permintaan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Meningkatnya tekanan kenaikan harga diperkirakan terjadi pada semua kelompok komoditas, dengan kenaikan tertinggi pada kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, salah satu alasan utama penurunan bertahap IKK karena optimisme konsumen yang turun pada ketersediaan lapangan kerja. Realisasi pada proyek infrastruktur akan menciptakan pekerjaan dan mendorong aktivitas ekonomi.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,71 persen pada kuartal I 2015 dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year). Artinya perekonomian nasional melambat jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang tumbuh 5,14 persen secara tahunan.
Kepala BPS Suryamin mengatakan Produk Domestik Bruto (PDB) nominal atas dasar harga berlaku tercatat sebesar Rp 2.724 triliun. Dia menjelaskan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dipengaruhi oleh kondisi perekonomian global yang belum menggembirakan.
Suryamin menilai, sumber sentimen negatif yang paling berpengaruh adalah perlambatan ekonomi Tiongkok dan Singapura, yang selama ini menjadi mitra dagang utama Indonesia baik ekspor maupun impor.
(ags)