Ariston Tjendra, Head of Research PT Monex Investindo Futures, mengatakan pada tahun ini gerak rupiah terhadap dolar AS sulit menembus level Rp 12.000 per dolar AS. Perlambatan ekonomi yang dipicu oleh lemahnya belanja pemerintah menambah suram masa depan rupiah.
“Hal itu dikarenakan dana APBN-P yang belum cair untuk proyek infrastruktur, ekonomi global dan kenaikan bunga bank setral AS (The Fed) yang akan dilaksanakan pada Desember nanti,” jelasnya di Jakarta, Senin (11/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Sulit rupiah untuk strong, apalagi menembus posisi Rp 12.000-12.500 per dolar AS di tahun ini," ujarnya.
"Dalam waktu dekat Rp 12.500 belum bisa, apalagi The Fed bakal menaikkan suku bunga, bisa mengarah ke Rp 13.500 per dolar AS," katanya.
Intervensi BI, lanjut Ariston, sejauh ini bukan untuk memperkuat Rupiah, tetapi hanya untuk meredam kejatuhan kurs terlalu cepat.
Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia, rupiah ditutup pada level Rp 13.116 pada perdagangan Senin (11/5) atau menguat tipis dari posisi hari sebelumnya Rp 13.177 per dolar AS. Sementara di pasar spot, rupiah melemah ke level Rp 13.155 dari posisi pembukaan pagi di angka Rp 13.082 per dolar AS. (ags/ded)