“Kami yakin kami dapat mencapai target tahun ini. Meskipun pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama agak sedikit melambat, pertumbuhan GDP (Pendapatan Domestik Bruto) di bawah 5 persen, tapi kami masih melihat perekonomian Indonesia masih memiliki potensi yang besar,” tutur Presiden Direktur JCBI Indonesia Yuichiro Kadowaki di Jakarta, Senin (11/5).
Sejak masuk ke pasar Indonesia pada tahun 2012, Kadowaki mengakuit tidak mudah untuk bersaing dengan Visa dan MasterCard yang sudah lebih dulu familiar di masyarakat lokal. Kendati demikian, perusahaannya tetap optimistis nasabah lokal akan mulai melirik kartunya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menyasar segmen kartu kredit kelas premium, perusahaannya terus berupaya menggandeng bank-bank lokal seperti Bank Negara Indonesia (BNI), Bank International Indonesia (BII), Bank CIMB-Niaga, Bank Central Asia (BCA), dan kerjasama yang baru terjalin dengan Bank Mandiri. Hal tersebut diupayakan agar kartu terbitannya dapat diterima di merchant lokal.
“Tahun ini kami mau tambah (jumlah kartu kredit premium JCB di Indonesia) jadi 200 ribu. Tahun depan 500 ribu (kartu),” tuturnya.
Jumlah tersebut masih relatif kecil dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta penduduk dan jumlah kartu kredit yang beredar di Tanah Air yang hanya sekitar 16 juta kartu per Maret 2015. Tak ayal, Kadowaki cukup optimistis.
Selain itu, Kadowaki juga berniat menambah 3 bank lokal untuk menjadi mitra JBC untuk tahun ini. Sayangnya, dia belum dapat membocorkan nama bank-bank tersebut
Sebagai informasi, saat ini terdapat 88 juta kartu JCB di seluruh dunia. Adapun jaringan penerimaan JCB mencakup sekitar 28 juta merchant dan lebih dari 1 juta lokasi ATM di sekitar 190 negara. (ags)