Menristek Mohamad Nasir mengatakan sebagai bentuk dukungan atas wacana tersebut, instansinya akan mendorong dilakukannya penelitian pengembangan nuklir di laboratorium perguruan tinggi.
"Kami sampai saat ini sudah menyiapkan research and development rekayasa daya eksperimen nuklir power plant yang dibangun untuk edukasi," ujar Nasir saat ditemui di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa (12/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang menghasilkan sekitar 30 MW. Ini sifatnya riset, kalau yang komersial urusannya Kementerian ESDM," katanya.
Ia mengatakan perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat terhadap penggunaan nuklir sebagai alternatif sumber energi terbarukan. Ia berharap masyarakat tidak perlu takut terhadap nuklir, sebab saat ini sudah banyak negara yang membangun PLTN. Nasir menilai bila tidak segera membangun PLTN, maka Indonesia akan tertinggal dengan negara lain.
"Saya sudah coba sosialisasikan, saya rasa sudah waktunya. Kalau tidak kita ketinggalan. Tahun 2025 sudah harus selesai terbangun reaktor sebanyak lima pasang yang bisa menghasilkan listrik 1.400 MW," katanya.
Nasir menjelaskan, Indonesia harus bekerjasama dan belajar dengan negara-negara yang sudah terlebih dahulu menggunakan nuklir sebagai sumber energi. Seperti Jerman, Finlandia, Rusia, Jepang, dan Korea selatan. Nasir mengaku banyak mendapat pernyataan minat dari negara lain yang berlomba-lomba untuk berinvestasi di bidang PLTN di Indonesia.
"Kita harus move ke nuklir power plant, kalau tidak kita ketinggalan," katanya. (gen)