Wacana pembubaran Petral sendiri sudah digulirkan sejak Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dipimpin oleh Dahlan Iskan pada 2011, namun baru kali ini mantan Ketua Tim Reformasi Faisal Basri berani menyebut nama pejabat yang menghalangi niat Dahlan tersebut.
Faisal menuturkan, baik Dahlan maupun mantan Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan memiliki niat yang baik dalam mengubah praktik-praktik impor migas yang tidak sesuai dengan ketentuan oleh Petral. Menurutnya, Karen ingin memperkuat fungsi Integrated Supply Chain (ISC) untuk impor melakukan impor minyak Pertamina, namun ternyata dipreteli oleh para pemburu rente sehingga fungsi impor ISC dialihkan ke Pertamina Energy Services (PES), anak usaha Petral di Singapura.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Oleh karena itu kami ditanya banyak hal urusan mafia ini oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dulu banyak kegiatan inisiatif yang tidak tuntas selesai di level Presiden. Jadi sepanjang pemimpin nasional lurus, persoalan teknis untuk memperbaiki supply chain tidak lepas dari keterbukaan Presiden Jokowi,” kata Sudirman. (gen)