Pengamat ekonomi dari IAIN Sumut Gunawan Benyamin mengatakan, rupiah kembali perkasa menjelang pernyataan dari Gubernur Bank Sentral AS Charles Evans. Menurut dia, pelaku pasar sepertinya mengkhawatirkan Evans akan memberikan arahan yang cenderung mendukung kemungkinan kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral.
“Selain itu, pada hari Selasa ini juga akan diumumkan data perumahan AS yang sejauh ini diperkirakan akan mengalami kenaikan,” jelasnya melalui surat elektronik, Senin (18/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti diketahui, laju penurunan impor yang lebih besar dari ekspor membawa neraca perdagangan Indonesia surplus dibulan April 2015. Ekspor April mencapai US$ 13,0 miliar (-8,5 persen secara tahunan), dan impor sebesar US$ 12,7 miliar (-22,3 persen secara tahunan), sehingga surplus perdagangan luar negeri tercatat sebesar US$ 454,4 juta.
“Penurunan output industri terjadi dalam 5 bulan berturut-turut. Pelaku pasar khawatir akan terjadi perlambatan momentum pertumbuhan ekonomi AS dikuartal kedua tahun ini,” ungkapnya.
Dari sisi regional, lanjutnya, memang ada sejumlah data yang seharusnya mampu memberikan dorongan bagi kinerja mata uang regional Asia. Informasi ekonomi terbaru dari Jepang adalah rilis indikator Japan's machinery orders yang tumbuh 2,9 persen secara bulanan dibulan Maret, lebih tinggi dari prediksi pasar sebesar 1,8 persen.
Sepanjang kuartal 1 2015, Japan's machinery orders (permintaan mesin) telah meningkat 6,3 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Japan's machinery orders merupakan salah satu leading indicator belanja modal perusahaan Jepang 6-9 bulan mendatang.
“Data dari Jepang tersebut belum mampu membuat sejumlah mata uang asia menguat termasuk dengan mata uang rupiah,” ujar Gunawan. (gir)