"Pastilah ini mengganggu kami. Bayangkan, 250 juta rakyat Indonesia itu makan beras," ujar Jamalus, pedagang beras di Pasar Induk Cipinang, Jakarta Timur kepada CNN Indonesia, Rabu (20/5).
Jamalus mengaku belum pernah melihat langsung beras plastik yang ramai dipergunjingkan media massa. Namun, dia sudah bisa menerka fisik dan bentuk dari beras imitasi tersebut setelah melihat reportase media.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meskipun belum ada unit khusus yang menyortir setiap beras masuk, tetapi Jamalus dan rekan-rekan pedagang di Pasar Induk Cipinang sudah bisa membedakan mana beras berkualitas dan tidak. Sejak 1978 membuka toko beras di Pasar Induk Cipinang, Jamalus hanya menerima pasokan beras dari distributor terpercaya yang berdasarkan pengakuannya langsung mengambil beras hasil panen petani.
Kendati demikian, dia tetap khawatir kawasan tempatnya berjualan kebobolan dan ada pelanggan yang dirugikan.
Ada Konspirasi?
Jamalus menduga ada upaya tertentu dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk merusak ekonomi nasional dengan mengedarkan beras plastik. Asumsinya, kata dia, harga bijih plastik lebih mahal dari pada beras sehingga janggal jika dijual di bawah harga rata-rata beras normal.
"Bijih plastik itu harganya berapa? lebih mahal dari beras. Apa mungkin dijual lebih murah dari beras? Pasti ada sesuatu ini," katanya.
Peristiwa serupa, kata Jamalus, pernah juga mengganggu perdagangan barang kebutuhan pokok di Pasar Induk Cipinang. Selain beras, sekitar dua tahun lalu terungkap peredaran susu ilegal yang sempat menghebohkan. Tak selang berapa lama, kata Jamalus, isu tersebut sirna tanpa ada kejelasan siapa distributor dan proses hukumnya.
"Pasti ada orang-orang tertentu atau negara tertentu yang berupaya untuk merusak pasar kita," katanya.
Untuk itu, Jamalus dan kawan-kawannya menuntut tindakan tegas dari aparat penegak hukum guna mengungkap konspirasi beras plastik ini. "Soal bagaimana seharusnya, ini penegak hukum punya urusan," ujarnya menegaskan. (ags/ded)