“Kita harus clear dulu, tujuannya dulu kan (pembubaran Petral) dimaksudkan agar biaya pengadaan minyak murah. Kalau biaya pengadaan minyak murah, maka harga BBM yang dijual ke rakyat juga akan murah. Kalau begitu (dengan pembubaran Petral) harusnya harga BBM turun,” ujar Kardaya di Jakarta, Kamis (21/5).
Pernyataan Kardaya tersebut dengan menanggapi klaim sepihak Menteri ESDM, yang menyatakan pelimpahan fungsi Petral ke ISC mampu meningkatkan efisiensi sekaligus transparansi Pertamina di dalam pengadaan minyak impor.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Sekarang jangan dulu ditepuk tanganin dong. Kalau Petral bubar dan harga BBM turun, baru kita tepuk tangan,” tuturnya.
“Semenjak dilimpahkan ke ISC, penghematan yang terjadi (dalam hal pengadaan minyak) mencapai US$ 22 juta dalam tiga bulan. Saya mengapresiasi Pertamina yang terus melakukan efisiensi,” tuturnya.
Sebagai informasi, selama Petral berfungsi sebagai trading arm, Pertamina hanya mendapatkan diskon atas pembelian minyak impor sekitar US$ 0,3 per barel. Namun, selepas fungsinya diserahkan ke ISC, BUMN migas tersebut tercatat memperoleh diskon hingga US$ 1,3 per barel.
Sudirman pun telah menginstruksikan Pertamina melakukan audit investigasi untuk mengetahui praktik inefisiensi yang selama ini terjadi di tubuh Petral.
“Nanti audit investigasi akan membuktikan,” katanya. (ags/gen)