Radya Allberdto Wanggai seorang pengusaha asal Papua, bercerita soal susahnya pengusaha daerah untuk masuk dan bermitra dengan PT Freeport Indonesia. Setelah puluhan tahun perusahaan tambang kelas kakap tersebut mengeruk tanah di Papua, namun tidak pernah merangkul pengusaha lokal.
Direktur Utama PT Urampi Indah Pratama itu mengatakan, usahanya untuk masuk dan bermitra dengan perusahaan tambang asal Amerika Serikat (AS) ini tidak pernah tembus. Padahal, perusahaannya yang bergerak di bidang ekspor impor dan kontraktor itu mengajukan diri untuk bermitra dengan Freeport sejak tahun 1999.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagai rantai emas yang sulit ditembus, Wanggai menilai sulit sekali mendapatkan perhatian dari Freeport. Bahkan, orang tuanya yang mantan anggota Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Timika pun tak kuasa meloloskan usahanya untuk masuk di Freeport.
Freeport, menurut Wanggai, selalu memberikan alasan bahwa perusahaan yang bermitra dengannya harus memiliki kemampuan (skill) dan peralatan yang mumpuni. Padahal, ia mengklaim perusahaannya telah memiliki sumber daya manusia dan faktor produksi lainnya yang mumpuni.
"Meskipun ada Vice President orang Papua, tapi itu sudah ada sindikat. Dia tidak ada perjuangan (untuk meloloskan bermitra dengan pengusaha lokal)," jelasnya.
"Harapan kami Freeport sebagai bapak angkat harus membina menjadi sub kontraktor, karena hasil yang mereka kelola adalah tambang hasil orang Papua, milik orang Papua," kata Wanggai. (gir/gir)