"Hingga pukul 11.00 WIB tadi, minyak goreng persediaan kami telah habis 50 persen. Kami harap minyak goreng kita akan habis karena antusias masyarakat setempat sangat luar biasa," terang komisaris PT Wilmar Nabati Indonesia, MP Tumanggor di Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat.
Dalam pasar murah tersebut, perusahaan hanya menyediakan minyak goreng dengan merk Fortune dan tidak membawa merk minyak goreng lain dari perusahaan, yaitu Sania. Selain itu, pada kesempatan tersebut ia mengatakan bahwa harga minyak goreng yang dijual lebih murah dari biasanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan perhitungan konversi minyak goreng sebesar 0,92 kilogram per liter, maka nilai penjualan minyak goreng pada kesempatan tersebut bisa mencapai 10,8 ribu liter. Dengan kata lain, perusahaan bisa mencatat penjualan senilai Rp 97,82 juta jika minyak goreng ini laris semua.
"Lokasi pasar ini merupakan lokasi kedua kami setelah di Solo, Jawa Tengah kemarin. Untuk Bantar Gebang sendiri, alasannya adalah karena jumlah warga tidak mampu yang besar. Menurut catatan kami, di sini ada lima ribu pemulung," tambah Tumanggor.
Kendati dijual dengan harga miring, namun perusahaan tetap mencegah pembelian minyak goreng dalam partai banyak demi mencegah pencari rente yang berniat menjual kembali dengan harga normal. Romlah, penjaga stand pasar minyak murah mengatakan, pengunjung hanya bisa membeli minyak sebanyak satu karton, atau senilai 12 liter.
"Demi mencegah penjualan kembali, kami hanya batasi penjualan sebanyak satu karton per orang. Selain itu, tak ada potongan harga jika pengunjung membeli dalam jumlah banyak. Penetapan harganya masih harga jual dikali berapa liter minyak goreng yang mereka beli," tutur Romlah di tempat yang sama.
"Banyak yang meminta kami untuk membuka pasar murah terpadu. Jika hal tersebut kami lakukan dan permintaan meningkat, kuota minyak goreng akan tetap sama di setiap lokasinya, yaitu 10 ton saja," tambahnya. (gir)