Bahkan PT Kereta Api sempat mengira Stasiun Samarang adalah sebuah bangunan bertuliskan nama “Kemidjen”, yang ditemukan dalam dokumentasi sejarah. Sehingga muncul cerita tentang Stasiun Kemidjen.
Ternyata belakangan diketahui bahwa bangunan Kemidjen yang dikira stasiun, hanyalah sebuah rumah sinyal. Sedang stasiun Samarang NIS diduga sudah hancur atau hilang di dalam air rob dan tambak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penelusuran ini membawa mereka ke sebuah area permukiman padat yang dikepung rawa di dekat Stasiun Semarang Gudang, stasiun yang juga kuno, yang dibangun setelah Samarang NIS.
Ternyata sudah lama bangunan itu diubah menjadi rumah dan orang-orang seperti lupa dari mana bangunan itu berasal. Beberapa bagian stasiun masih bisa dilihat, tapi harus dari dekat. Seperti besi melengkung yang ada di atap peron, ventilasi bundar di dinding, dan kayu-kayu besar di atap.
“Saya sudah tinggal di sini sejak 2000-an, disuruh saudara menempati rumah ini,” kata Ratmin, 35 tahun, seorang warga yang di salah satu dinding rumahnya ada lubang ventilasi dari era 151 tahun lalu.
Dia bercerita awalnya tak begitu mencermati dari mana asal bangunan yang ditempatinya. Tapi seiring waktu, ketika peneliti berhasil mengidentifikasi jejak Stasiun Samarang di rumahnya, dia dan warga yang tinggal di sana mulai memahami, rumah mereka dibangun di sebuah bangunan paling bersejarah dalam industri kereta api Indonesia.