Restrukturisasi Modal, Sawit Sumbermas Tambah Utang Rp 1,4 T

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Selasa, 23/06/2015 15:09 WIB
Perseroan akan melakukan refinancing atas pinjaman Rp 1,5 triliun serta mendapat tambahan pinjaman US$ 110 juta setara Rp 1,46 triliun. Kebun dan pabrik pengolahan kelapa sawit milik PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk di Kalimantan. (Dok. Sawit Sumbermas Sarana)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk menyetujui penjaminan sejumlah aset perseroan sebagai agunan atas pinjaman untuk memperkuat struktur permodalan.

Perseroan akan melakukan refinancing atas pinjaman senilai total Rp 1,5 triliun serta mendapatan tambahan pinjaman senilai US$ 110 juta setara dengan Rp 1,46 triliun.

“Pemegang saham menyetujui rencana anak usaha perseroan yang tidak terafiliasi untuk memakai aset dari perusahaan group Sawit Sumbermas untuk menjadi jaminan sementara,” tutur Direktur Utama Sawit Sumbermas Rimbun Situmorang usai menghadiri RUPSLB di Graha Niaga, Jakarta, Selasa (23/6).


Rimbun mengungkapkan pinjaman tersebut akan digunakan untuk mengembangkan usaha Perseroan terutama dalam pengembangan industri agribisnis dan pembudidayaan kelapa sawit yang terintegrasi dari hulu hingga ke hilir. Di mulai dari penanaman, pemanenan, pengolahan Tandan Buah Segar (TBS) yang menghasilkan minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO), inti sawit dan minyak inti sawit, hingga ke proses pendistribusian produk.

Direktur Keuangan Sawit Sumbermas Harry Nadir menyebutkan dua lembaga pembiayaan yang menjadi sumber pembiayaan tersebut adalah PT Bank Mandiri Tbk dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia.

“Jadi ada dua bank yang akan kita lakukan pinjaman untuk saat ini, yang mana akan digunakan untuk pengembangan. Sedangkan untuk utangnya sekarang, dengan Bank Mandiri itu kurang lebih Rp 1,3 triliun plus yang ada di Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia itu ada US$ 55 juta,” tutur Harry.

Menurutnya, besaran pinjaman akan dibagi rata antara kedua lembaga pembiayaan tersebut. Adapun tingkat suku bunga pinjaman sebesar 10,5 persen per tahun untuk pinjaman dalam nominal rupiah dan sekitar 0,025 persen per tahun untuk pinjaman dalam nominal dolar Amerika Serikat.

Terkait dengan pengembangan, Harry menuturkan perseroan juga berencana untuk mengakuisisi lahan di semester II tahun ini. Kendati demikian, Harry menyebutkan pihaknya belum menentukan lahan mana yang akan diakuisisi.

"Belum (menentukan lahan yang akan diakuisisi), ini duitnya dulu. Kalau duitnya ada gampang. Mudah-mudahan semester II (dapat mengakuisisi lahan). Kalau dapat kebun bagus bisa meningkatkan nilai perusahaan,” kata Harry.

Harry mengklaim rasio utang terhadap modal (debt to ratio) perseroan masih cukup longgar sehingga perseroan masih memiliki cukup ruang untuk mengutilisasi struktur permodalan yang ada.

Menilik laporan kinerja perseroan pada triwulan I tahun 2015, DER perseroan tercatat ada di kisaran 0,86.

“Kita harus utilisasi capital structure ini supaya kita bisa dapat benefit percepatan terhadap pertumbuhan perusahaan supaya bisa memperoleh kinerja yang lebih baik di tahun-tahun mendatang,” ujarnya. (gen)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK