“Proses pelimpahan saham ke FGV akan dimulai dua hingga tiga pekan ke depan, dimana BWPT akan menerima uang muka sebesar 25 persen dari kesepakatan senilai US$ 680 juta, atau sebesar US$ 174,5 juta,” ujar Komisaris Utama Eagle High, Darjoto Setyawan di Jakarta, Kamis (25/6).
Dengan demikian, jelas Darjoto, maka nantinya porsi kepemilikan saham BWPT menjadi 37 persen milik FGV, 31,5 persen milik Rajawali Corpora, dan 31,5 persen milik publik. Seperti diketahui, FGV membeli 37 persen saham BWPT dengan nilai mencapai US$ 680 juta atau Rp 9,04 triliun yang terdiri dari gabungan dana tunai dan saham.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika ditilik dari sejarah kepemilikannya, Rajawali Group sebelumnya membeli BWPT dengan harga Rp 400 per saham saat melalui skema Penawaran Umum Terbatas (PUT) dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau right issue akhir tahun lalu. Jika dihitung, maka Rajawali meraih untung lebih dari Rp 4 triliun.
Namun, tampaknya hal tersebut tidak dianggap serius oleh manajemen BWPT. Perseroan menyatakan pihak FGV bakal kembali berkunjung ke Indonesia guna melangsungkan proses akuisisi saham tersebut.
"Kita tunggu dalam dua hingga tiga minggu, down payment (DP) diterima. Dan pada minggu ini mereka akan mengirim tim untuk melakukan due dilligence. Kendati aksi korporasi ini dipandang negatif di Malaysia, tapi kami yakin penyerahan saham akan berjalan dengan lancar," tuturnya.
Di saat yang sama, FGV juga akan mengakuisisi 95 persen kepemilikan di proyek gula Rajawali senilai US$ 67 juta dengan tunai. Proyek gula tersebut akan berada di bawah FGV Kalimantan Sdn Behd, anak usaha dari FGV. (gir/gir)