Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara menjelaskan krisis yang dihadapi Yunani saat ini tidak akan banyak berdampak langsung pada perekonomian negara-negara emerging market yang sebagian besarnya merupakan negara berkembang, termasuk Indonesia.
"Masalah Yunani itu sebenarnya sudah lama. Namun tahun 2011 dan 2015 itu berbeda jauh. Pada 2011 itu perbankan Eropa yang punya eksposure (peran) pasar di Yunani masih besar sekali. Kalau sekarang perbankan yang punya eksposure besar di Yunani itu sudah tidak ada," jelas Mirza saat ditemui di Gedung Bank Indonesia (BI), Jumat (26/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yunani saat ini harus berhadapan kembali dengan tawaran pinjaman utang dari para kreditur untuk menyelamatkan negaranya dari kebangkrutan, namun hal tersebut selalu gagal.
Pembicaraan tentang krisis utang Yunani antara menteri keuangan UE harus terhenti setelah Athena menolak usulan kebijakan reformasi keuangan yang diajukan para kreditor. Padahal sehari sebelumnya, sikap Tsipras melunak dengan menyatakan siap memangkas anggaran pensiun dan menaikan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) seperti yang kreditor inginkan. Namun pada detik-detik terakhir sikap Tsipras justru berubah.
Meski demikian, Mirza meyakini, Indonesia masih akan tetap bisa bertahan dengan hantaman krisis global. Mirza mengaku pihaknya sudah mengantisipasi berbagai risiko termasuk pendalaman pasar keuangan.
"Tergantung apakah jadi deal apa enggak. Ini kan masih tarik ulur antara debitur dengan Yunani. Tapi menurut saya enggak terpengaruh, karena eksposure pasar keuangan di Yunani sudah tidak besar," katanya. (gir/gir)